Scroll to Top

Ada jaringan mafia international dibalik perdagangan gelap cula badak

By Redaksi Sijoripost / Published on Sabtu, 20 Jan 2018 12:32 PM / No Comments / 189 views
Cula badak yang menjadi buruan pemburu gelap (foto BBC)

Sijoripost.com – Tahun 2015, polisi di ibu kota Mozambik, Maputo, menangkap sekelompok pria dan menyita cula badak, sejumlah besar dolar, segepok mata uang lokal, dan -yang agak tidak biasa- empat karung beras.

Dua pria yang ditangkap adalah warga Korea Utara yang mengaku sebagai diplomat yang bertugas di Afrika Selatan. Uang jaminan untuk pembebasan sementara mereka ditetapkan US$30.000 atau sekitar Rp400 juta, yang dibayar sebelum keduanya lari meninggalkan Mozambik.

Seorang wartawan investigatif, Julian Rademeyer, membaca berita tentang penangkapan itu dan memutuskan untuk menggali lebih dalam lagi dan belakangan diterbitkan menjadi laporan berjudul Diplomats and Deceit, yang menuturkan kegiatan kriminal Korea Utara di Afrika.

Ketika saya mengunjungi Rademeyer di Johannesburg, Afrika Selatan, saya terkejut mendengar meluasnya keterlibatan Korea Utara dalam perdagangan cula badak, yang rinciannya dia ungkapkan di laporannya.

“Sejumlah Kedutaan Besar Korea Utara di Afrika menjalin hubungan perdagangan gelap untuk cula badak, rokok, dan barang tambang,” tulisnya.

Rademeyer menjelaskan lebih lanjut bahwa para diplomat negara tersebut bekerja di bawah kantor Biro 38, sebuah departemen bayangan pemerintah yang bertujuan untuk memperoleh uang tunai’.

Dia juga memperkirakan bahwa, “Sanksi ekonomi yang semakin diperketat untuk melumpuhkan kemampuan senjata nuklir Korea Utara mungkin mendorong perluasan dari kegiatan gelap rezim dan jaringan kriminal yang ditopang negara.”

Gaji rata-rata duta besar di Kementrian Luar Negeri Korea Utara sekitar US$1.000 atau Rp13 juta per bulan, yang tidak cukup untuk hidup di sebagian besar ibu kota dunia, tempat mereka ditugaskan.

Biasanya cula digergaji ketika badak masih dalam keadaan hidup setelah dilumpuhkan dengan tembakan.(foto Bbc)

Jadi selain bisa mendapat uang tunai untuk dikirim ke para atasan di Pyongyang, mereka juga mendapat insentif mendapat pemasukan tambahan di luar gaji.

Sudah beberapa kali para diplomat Korut ditangkap karena menjual alkohol dan rokok tanpa cukai, atau terlibat perdagangan narkoba -seperti heroin maupun methamphetamines- atau menyelundupkan perempuan untuk tujuan prostirusi.

Pihak Korea Selatan memperkirakan perdagangan barang dan jasa gelap tersebut memberi pemasukan hampir US$1 miliar untuk rezim Korut setiap tahunnya.

Tahun 2006, beberapa pembelot dari Korut membuat pernyataan yang tidak diperkirakan bahwa mendiang diktator Kim Jong-il , yang merupakan ayah dari Kim Jong-un yang memerintah saat ini, memutuskan untuk menghentikan keterlibatan negaranya dalam perdagangan narkotika.

Tampaknya dia merasa bahwa perdagangan narkotika merusak reputasi negaranya. Tapi tentu itu cuma satu teori.

Teori lainnya adalah pemerintah Beijing -yang merupakan sekutu utama Pyongyang- prihatin atas meningkatnya pecandu narkoba di Cina dan memberi tekanan kepada Korut.

Dengan diakhirinya perdagangan narkotika maka para diplomat tidak bisa lagi memenuhi ‘kewajiban keuangan’ mereka dengan, misalnya, menyelundupkan 3.000 pil amphetamine di kantong diplomatik, yang tidak melewati pemeriksaan seperti biasanya.

Saat itulah para diplomat Korea Utara yang bertugas di Afrika menemukan pelang yang baru. Kaum kelas menengah di Cina dan Vietnam yang semakin sejahtera telah meningkatakan permintaan atas cula badak.

Pada awal tahun 2000-an, cula badak belum masuk dalam daftar barang dan jasa gelap, yang diminati para kelompok penjahat internasional, yang masih lebih suka menjual perempuan, narkoba, dan senjata.

Dalam dua dekade sebelum tahun 2008, pihak berwenang di negara-negara Afrika bagian selatan serta Cina dan Yaman -dua pasar yang paling penting- tampaknya berhasil menghapus perdagangan cula badak dan gading gajah.

Namun permintaan cula badak tetap ada, antara lain karena tepung dari cula itu sudah digunakan selama lebih dari empat abad sebagai obat tradisional Cina.

Diukir untuk menjadi belati tradisional yang disebut jambiya, permintaan atas cula badak amat tinggi di Yaman pada masa 1970-an hingga 1980-an. Pangsa pasar yang relatif kecil masih tetap ada di Yaman namun tidak bisa menyaingi harga yang tinggi di pasar Asia Tenggara.

Jumlah pertumbuhan badak dan gajah sebenarnya sempat berada dalam tingkat yang sehat dan ancaman atas spesise tertentu sudah diturunkan oleh CITES, badan dunia yang mengatur satwa liar. Namun tahun 2008, jumlah badak yang dibunuh untuk mendapatkan culanya kembali meningkat dengan laju yang mengancam kesinambungannya.

Kaitan antara warga Afrika yang miskin dengan para pejabat korupsi yang dipadu dengan para kriminal dari Asia Timur menjadi ancaman khusus atas penegakan hukum, yang membutuhkan sumber daya besar, yang tidak dimiliki sejumlah besar negara Afrika,

Saat ini ‘Big Joe’ Nyalunga -mantan insprektur polisi Afrika Selatan- sedang menunggu sidang bersama tersangka lain dalam dakwaan perburuan gelap badak.

Dia ditangkap pada Desember 2010 namun sebagai mantan polisi, dia tampaknya paham betul sistem hukum dan sejak ditangkap sudah beberapa kali bebas dengan jaminan.

Rencana terbaru adalah dia akan diadili pada musim semi 2018 dan sudah berulang kali pula dia membantah dakwaan tersebut.

‘Big Joe’ diduga merupakan ‘gembong’ yang mengelola para pemburu gelap di kalangan warga setempat yang umumnya miskin dan memiliki ketrampilan melacak dan memburu satwa liar.

Cula badak yang mereka dapat kemudian dijual ke tengkulak, yang akan mengekspor, biasanya, ke kawasan Asia Timur, untuk dijadikan semacam perhiasan kecil atau sebagai obat tradisional yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari kanker hingga impotensi.

Jaksa penuntut Ansie Venter menuduh ‘Big Joe’ meraup keuntungan besar dari perdagangan cula badak itu selama bertahun-tahun. Reputasi Venter selama ini terkenal amat gigih dalam mengejar para penjahat yang memburu satwa di Afrika Selatan dan dia selama beberapa tahun dia berupaya untuk mendudukkan ‘Big Joe’ di kursi terdakwa.

“Saya tidak suka publisitas yang saya dapatkan karena pekerjaan ini namun saya siap menghadapi hal itu demi melindungi badak yang malang,” tegasnya.

Dia menggambarkan betapa jahatnya perburuan gelap tersebut karena badak lebih dulu dilumpuhkan dengan senapan berburu berkaliber tinggi sebelum culanya digergaji ketika badak masih dalam keadaan hidup.

Satwa itu kemudian ditinggal begitu saja dalam keadaan berdarah hingga mati perlahan-lahan. Para pemburu liar tidak mau membunuh langsung badak yang mereka tangkap karena badak yang mati akan menarik perhatian burung bangkai, yang pada gilirannya membuat polisi hutan jadi tahu bahwa ada satwa yang mati.

Di sisi lain para gembong sering dianggap sebagai Robin Hood oleh orang-orang yang bekerja untuk mereka, baik itu di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Mozambik. Warga setempat yang miskin berpandangan bahwa banyak sumber daya yang disediakan untuk perlindungan satwa liar, yang akan menjadi hiburan wisata bagi para turis-turis kulit putih yang kaya sementara komunitas mereka dibiarkan membusuk.

Salah seorang pemburu liar yang didakwa Venter adalah Elliot Mzimba, yang dihukum tujuh tahun penjara. Pria berusia 43 tahun dan ayah dari eenam anak itu berasal dari kawasan pedesaan Mozambik yang berbatasan dengan Taman Nasional Kruger.

Berlangsung semacam persaingan antara polisi hutan dan pemburu gelap, termasuk dari segi peralatan dan persenjataan. (foto BBC)

Venter mengatakan Mzimba merupaman pemburu yang umumnya yang didakwa, “Mereka biasanya tidak berpendidikan, orang miskin, dan berada di ujung dari rantai makanan yang amat ingin mendapat pemasukan.”

Jelas bahwa perdagangan organ satwa liar bukan hanya melibatkan pemburu gelap atau gembong yang merupakan warga Afrika saja. Seperti yang sudah terungkap, ada diplomat Korea Utara maupun penjahat Vietnam, dan -mungkin agak aneh- penari telanjang Thailand.

Di sisi lain, bagi orang kaya masih tetap terbuka untuk melakukan perburuan legal atas satwa liar di Afrika Selata, termasuk badak, gajah, dan singa. Para pemburu yang menjadi klien umumnya adalah pria setengah baya yang kaya raya asal Amerika.

Perburuan legal ini menjadi berita besar ketika seorang dokter gigi asal Minnesota, Walter Palmer, menembak mati seekor singa bernama Cecil di Zimbabwe. Palmer dilaporkan membayar US$50.000 (sekitar Rp677 juta) untuk bisa berburu singa.

Tahun 2006, pihak yang mengelola perburuan legal sambil bersafari itu menemukan dua jenis klien baru, yaitu ‘pengusaha’ Vietnam dan perempuan muda asal Thailand.

Pengusaha Vietnam dan perempuan muda Thailand itu tidak punya ketrampilan menembak satwa liar yang besar namun mereka menggunakan jasa orang setempat untuk berburu satwa liar. Para perempuan muda Thailand yang berpakaian safari itu kemudian berfoto-foto di depan satwa buruan.

Belakangan ditemukan bahwa perempuan Thailand itu adalah para penari telanjang atau pekerja seks komersial di bar-bar Johannesurg yang dibayar oleh pengusaha Vietnam maupun Laos.

Cara itu, menurut kriminolog Annette Hübschle, membuat biayanya lebih murah karena para penyelundup bisa menghemat biaya perjalanan dari negara-negara Asia Tenggara ke Afrika Selatan untuk melakukan perburuan legal. Mereka bisa menggunakan para penari telanjang dan PSK asal Vietnam yang sudah ada di Johannesburg itu,

Seorang mantan pedangan badak yang menjadi informan mengatakan, “Para perempuan dibayar 5.000 rand (sekitar Rp4 juta) untuk ikut dalam perburuan. Banyak dari perempuan tersebut yang diselundupkan ke Afrika Selatan dan ingin membayar utang kepada germonya.”

Persilangan antara perempuan yang diselundupkan dengan perdagangan gelap lainnya memang menjadi salah satu ciri biasa dalam mafia modern.

Ciri lain dari mafia global adalah berbentuk perusahaan bernilai miliaran dolar yang kadang memiliki sumbuer daya yang lebih baik dari lembaga penengak hukum yang bertugas untuk mengejar para penjahat tersebut.

Para pembulu gelap menggunakan senjata kelas militer, kenderaan, dan helikopter untuk memburu gajah dan badak, yang kadang membuat polisi hutan jadi putus asa untuk menghentikannya.

Khristopher Carlson -seorang peneliti senior di Small Arms Survey -lembaga yang meneliti kekerasan bersenjata- menjelaskan dalam sebuah pertemuan PBB bahwa bekas amunisi yang ditemukan di lokasi perburuan di Afrika dan senjata yang disita bisa digunakan untuk menelusuri peredaran senjata gelap dan menghentikannya.

Sebenarnya Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan dan kawasan hutan untuk perburuan pribadi di sekitarnya memiliki unit anti-perburuan gelap seperti militer, dengan perlengkapan pesawat terbang, peralatan terbang tanpa awak, dan persenjatan canggih.

Lantas ada juga Vetpaw (singkatan Veterans Empowered to Protect African Wildlife yang merupakan lembaga nonpemerintah di Amerika Serikat yang mengerahkan para veteran AS dari perang Iran dan Irak ke Afrika untuk melatih polisi hutan dalam mengatasi perburuan gelap.

Namun para ahli dan pengamat jadi khawatir bahwa yang terjadi adalah pertarungan kecanggihan persenjataan antara para petugas perburuan legal dan para pemburu liar.

Kejahatan yang terorganisir ini jelas tidak hanya terbatas pada perdagangan badak. Perang melawan narkoba yang dilancarkan Amerika Serikat sudah melewati beberapa dekade, yang mendorong matinya ribuan orang di Meksiko, Kolombia, dan Brasil.

Beberapa waktu lalu, Uni Eropa sampai mengerahkan kapal Angkatan Laut untuk menghadapi jaringan penyelundup manusia yang bermarkas di Libia. Para kelompok penjahat itu mendapat keuntungan besar dengan membawa para migran asal Afrika melintasi Laut Mediterania dengan menggunakan kapal yang rapuh, yang sering tenggelam karena membawa penumpang yang jauh melebihi kapasitasnya.

Hal-hal itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran akan budaya mafia yang berkembang, yang sebelumnya tidak pernah terjadi.,

Seorang ahli kriminalitas global, Tuesday Reitano, mengatakan bahwa perkembangan budaya mafia mungkin ‘membuat kekuatan militer harus menghadapi perang jangka panjang melawan kriminalitas, walau mereka tidak disiapkan untuk itu.”

Dan ada kekhawatiran lain pula: kejahatan terorganisir akan merusak individu-individu di dalam pasukan yang mestinya berperang melawannya.

Reitano bekerja di Global Initiative Against Transnational Organized Crime -yang bertujuan mengurangi pengaruh kelompok-kelompok penjahat di seluruh dunia- dan dia khawatir militarisasi dari gerakan perlindungan badak justru akan memukul balik.

“Senjata menyebar di seluruh Afrika Timur sebagai hasil langsung dari militarisasi dalam upaya menghadapi perburuan gelap gajah dan badak,” tuturnya. “Kita harus memahami dan mengkaji konskuensi yang tidak diinginkan yang mungkin timbul dari strategi-strategi itu sebelum menerapkannya,” jelasnya.

Ada konsensus di kalangan pada ahli keamanan dan aparat penegak hukum di seluruh dunia bahwa jaringan penjahat transnasional merupakan salah satu dari ancaman global yang kita hadapi saat ini -selain perubahan iklim, wabah penyakit, dan senjata pemusnah massal.

Dan seperti yang terlihat dalam perdagangan gelap cula badak, kita masih jauh dari pemecahan masalahnya.

bbc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares