Scroll to Top

Disparekraf Riau memberdayakan buzzer buzzer untuk mempromosikan wisata Riau

By Redaksi Sijoripost / Published on Selasa, 14 Agu 2018 20:42 PM / No Comments / 17 views
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Fahmizal Usman.

Pekanbaru, Sijoripost.com – Dinas Pariwisata Riau kembali membuat terobosan dengan memberdayakan buzzer-buzzer untuk mempromosikan potensi daerah. Melalui Bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) dinas yang dipimpin Fahmizal ini melakukan MoU untuk pertumbuhan ekraf.

Penandatanganan MoU dilaksanakan, Sabtu ( 11/8) di laman Mall SKA Pekanbaru. Tampak dalam acara itu Ketua APJI Riau, Ketua IKABOGA RIAU, jajaran pengurus BKOW serta para pejabat di lingkungan Dinas Pariwisata Riau.

Sementara pihak buzzer yang menandatangani MoU antara lain Brosis Pku, Pku City, Wisata Pku Riau, Caraka Corp, Anak Nongkrong Pku, Trip Pku, Pku Boming, Relawan Muda Riau, Genpi Riau.

Dalam kesempatan itu Fahmizal menjelaskan, Riau selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Sudah puluhan tahun Riau menikmati manisnya kelimpahan sumber daya alam ini. Namun, semakin berkurangnya potensi sumber daya alam yang ada menuntut masyarakat Riau untuk lebih kreatif dalam mengembangkan perekonomian. Salah satunya dengan mengembangkan ekonomi kreatif.

Pengelolaan ekonomi kreatif yang baik, tidak saja berdampak pada pendapatan, penciptaan lapangan kerja serta nilai ekspor. Namun juga berkontribusi penting terhadap kesejahteraan dan pembangunan berkelanjutan.

Melihat kondisi kekinian, Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Terlebih, tren bisnis dan penggerak ekonomi saat ini sudah bergeser ke usaha dan bisnis yang memiliki keunikan dan ciri khusus, inilah peluang yang harus dilirik pemerintah Riau.

Sebenarnya di Riau, sektor industri kreatif, terutama dalam hal seni pertunjukan juga termasuk dalam subsektro ekonomi kreatif itu juga maraknya. Kerapkali di Riau mempersembahkan beragam bentuk potensi ekonomi kreatif berupa kuliner, cenderamata, musik, fotografi, arsitektur, iven-iven seni pertunjukan baik skala nasional maupun internasional, sebut saja misalnya, parade tari, parade musik, music world Hitam Putih, Bono Jazz, Festival Budaya Melayu dan banyak lagi lainnya. Ke semua event seni pertunjukan yang dilakukan menampilkan karya-karya seni pertunjukan yang sesungguhnya memiliki “daya jual”.

“Kreasi-kreasi yang dilakukan berangkat dari kekayaan khazanah budaya lokal yang ada, ataupun kolaborasi antara modernitas dan tradisi,” ujarnya.

Namun demikian, ada persoalan yang tidak bisa dianggap remeh dalam setiap helat seni pertunjukan yang dilakukan. Terutama pada pengunjung atau penonton yang tidak pernah memuaskan dalam segi kuantitas. Acara atau helat seni pertunjukan yang begitu besar gaungnya tidak dihadiri atau diramaikan oleh pengunjung atau sepi pengunjung.

Persoalan ini bukan pula tidak pernah dilakukan upaya-upaya atau terobosan dalam mengatasinya, berbagai media massa baik cetak, elektronik, online telah diikutkan kerja samanya, baliho dan spanduk bahkan sudah diramaikan pula di beberapa titik yang diperlukan hanya saja tetap tidak mendatangkan hasil yang memuaskan.

Ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena mengingat produk-produk seni budaya yang seharusnya dapat digalakkan dan dikembangkan sesuai dengan pekerjaan ekonomi kreatif, jadi tidak maksimal. Bahkan produk-produk seni budaya yang telah dihasilkan oleh para pelaku seni budaya tidak dikenal oleh masyarakat luas, bahkan tidak dapat “dijual” atau menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat baik bagi para pelaku maupun bagi perkembangan seni budaya itu sendiri.

Memandangkan persoalan yang seperti dijelaskan di atas, kiranya diperlukan terobosan-terobosan baru. Dalam hal ini tentu memanfaatkan ketersedian teknologi informasi yang demikian canggih. Perlu mencoba tawaran sebuah konsep kerja sama dengan pihak-pihak yang memang menguasai massa terutama di sosial media, salah satunya adalah buzzer.

Pada mulanya, buzzer berawal dari iven Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk melakukan kampanye pada pilkada Jakarta 2012 dan pemilu Indonesia 2014. Akibat dari efeknya yang amat sangat efektif dan masif sehingga pada akhirnya beberapa perusahaan juga mencoba untuk menggunakan cara ini dalam memasarkan produknya.

Pada sosial media buzzer dikenal sebagai orang yang memanfaatkan akun sosial media miliknya guna menyebar luaskan info atau dengan kata lain untuk melakukan promosi maupun iklan dari suatu produk maupun jasa pada perusahaan tertentu. Sehingga dengan demikian, jelas fungsi buzzer, di sosial media pada kenyataannya memiliki peran sebagai alarm. Maksudnya orang yang akan terus menerus sesuai jadwal yang telah ditetapkan melakukan suatu promosi atau iklan mengenai suatu produk.

Biasanya hanya akun dengan jumlah pengikut yang banyaklah yang bekerja pada profesi ini. Selain itu tentunya akun tersebut juga dapat memberikan pengaruh besar kepada para followers-nya. Maka dari itu biasanya akun-akun sosial media seorang buzzer adalah akun dari seorang public figure. Seorang buzzer memiliki ribuan follower yang setiap saat memantau akun sosial media yang dimilikinya. Sehingga konsep kerja sama yang ditawarkan dapat pula membagikan info-info kegiatan atau helat seni pertunjukan yang akan digelar. Peluang ini tentu saja sejalan dengan ketersedian tekhnologi yang hari ini demikian canggih.

Konsep atau program kerja sama yang ditawarkan ini juga mengingat jumlah penduduk Indonesia yang hampir sampai ke pelosok mana pun, memiliki akun di sosial media, baik Facebook, Twitter, Instagram, WA dan lain-lainnya. Dengan cara menggandeng buzzer, diperkirakan informasi terkait dengan potensi ekonomi kreatif diketahui oleh kalangan masyarakat lebih luas.

 

riaupos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares