Scroll to Top

Eks Anggota Tim Mawar Diduga di Belakang Peristiwa 21-22 Mei

By Redaksi Sijoripost / Published on Senin, 10 Jun 2019 13:15 PM / No Comments / 718 views

Jakarta, Sijoripost.com – Ratusan peserta aksi unjuk rasa usut kecurangan Pemilu 2019 di depan Kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/2019) siang menyanyikan lagu “2019 Ganti Presiden” di tengah orasi beberapa tokoh.

Massa menyanyikan lagu tersebut dipimpin pemilik lagu yaitu Sang Alang dan anggota BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo-Sandi, Neno Warisman.

Ratusan massa yang berpakaian putih pun kompak mengikuti nyanyian Sang Alang dan Neno Warisman yang berada di atas mobil komando.

Padahal sebelumnya gerakan 2019 Ganti Presiden yang menjadi inspirasi lagu tersebut sempat diharamkan pencetusnya sendiri yaitu politikus PKS, Mardani Ali Sera.

Neno Warisman kemudian berorasi meyakinkan bahwa unjuk rasa di depan Kantor Bawaslu siang itu adalah sebuah kemuliaan.

“Ini adalah kemuliaan untuk menjunjung kebenaran,” ungkap Neno.

Dalam aksi unjuk rasa itu massa meminta Bawaslu RI mengusut tuntas kecurangan-kecurangan Pemilu 2019.

Termasuk meminta Bawaslu melakukan pemeriksaan forensik petugas pemungutan suara yang meninggal setelah bertugas.

Diharamkan Mardani

Dikutip dari Kompas.com, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menegaskan dirinya telah menutup gerakan yang dia inisiasi, yaitu #2019gantipresiden beberapa hari sebelum pemungutan suara Pemilu 2019.

.Bahkan, Mardani Ali Sera mengatakan #2019gantipresiden sudah tutup buku.

“Per 13 April saya sudah mengharamkan diri tidak boleh teriak lagi ganti presiden. Sudah selesai. Kenapa? karena itu sudah hari terakhir kampanye. Kalau sekarang apalagi sudah selesai kompetisinya. Kita kembali normal. Ganti presiden sudah tutup buku,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Mardani Ali Sera juga ikut mendukung adanya rekonsiliasi antara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf.

Ia mengatakan, apabila keduanya terus saling berbalas komentar, maka akan semakin memecah belah masyarakat.

Mardani Ali Sera (Chaerul Umam)

“Tinggal tekun aja, nggak usah saling sahut karena yang seperti itu membuat di bawah publik semakin pecah,” kata Mardani Ali Sera.

Selanjutnya, Mardani mengatakan, siapapun yang menjadi presiden terpilih 2019 harus dihormati bersama.

Namun, apabila terjadi beberapa masalah diselesaikan sesuai dengan koridor hukum.

“Itu suaranya rakyat, dan saya harus menghormati. Kalau Pak Prabowo saya sujud syukur, kalau Pak Jokowi, ya berarti saya harus mengawal sesuai koridor,” pungkasnya.

 

Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares