Scroll to Top

Gebrakan dakwah di klub malam, Gus Miftah di sentil MUI

By Redaksi Sijoripost / Published on Kamis, 13 Sep 2018 11:14 AM / No Comments / 31 views
Dakwah Gus Miftah di club malam (foto internet)

Jakarta, Sijoripost.com – Ceramah yang dilakukan KH Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah di sebuah klub malam di Bali menuai polemik. Ini terjadi setelah rekaman video ceramah Gus Miftah beredar di Youtube.

“Semaksiat apa pun kita di hadapan manusia, kita masih diberkahi oleh dia yang Maha Kuasa,” kata Gus Miftah dalam tayangan video tersebut.

Audiens dakwah pengampu Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji Tundan, Yogyakarta, itu adalah tamu klub. Selayaknya pengunjung tempat hiburan malam, mereka yang duduk mendengarkan dakwah Gus Miftah rata-rata berpakaian terbuka.

Metode dakwah ini ramai menimbulkan pro dan kontra. Ketua Majelis Ulama Indonesia atau MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional KH Muhyiddin mengatakan ada hal yang salah dari cara dakwah Gus Miftah sehingga disoroti publik.

“Yang salah dari Gus Miftah itu karena dia datang dan melihat langsung aurat-aurat yang terbuka, buah kemaksiatan,” kata Muhyiddin saat dihubungi Tempo pada Kamis pagi, 13 September 2018. Muhyiddin berpendapat, cara atau metode untuk dakwah itu ada aturannya.

Aturan yang disampaikan Muhyiddin tersebut lebih-kurang berbunyi seorang muslim sebaiknya menyampaikan ayat-ayat Tuhan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Bila kondisi audiensnya adalah nudist, ujar dia, Gus Miftah bisa menggunakan cara lain yang tidak harus mendatangi lokasi. Misalnya dengan video.

Dakwah dengan menggunakan tayangan video untuk tempat-tempat khusus seperti itu, kata Muhyiddin, akan lebih efektif. Sebab, pendakwah tidak menghadapi langsung audiensnya yang berpakaian terbuka.

Muhyiddin juga menyarankan Gus Miftah menggunakan format khusus seperti reklame iklan, rekaman, atau tulisan untuk menggaungkan dakwahnya. “Karena ini udah bukan zaman wali-wali dulu,” ujarnya. Selain itu, lebih baik, ujar dia, ulama asal Yogyakarta itu menggaet audiens lain. Misalnya di tepi-tepi pantai seperti di Lombok. “Masih banyak sasaran yang membutuhkan dakwahnya,” kata dia.

 

tempo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares