Scroll to Top

Habis gelar demo keprihatinan para guru diintimidasi, ini penjelasan Kadisdik

By Redaksi Sijoripost / Published on Senin, 11 Mar 2019 21:52 PM / No Comments / 139 views

Pekanbaru, Sijoripost.com – Matinya demokrasi? Usai menggelar aksi damai di depan kantor Walikota Pekanbaru, guru di Pekanbaru dapat intimidasi, ini kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik).

Sejumlah guru mengaku masih dapat intimidasi saat gelar aksi damai pada Senin (11/3/2019) di depan Kantor Walikota Pekanbaru Jalan Jenderal Sudirman.

Aksi guru sertifikasi ini masih menuntut revisi Peraturan Walikota Pekanbaru Nomor 7 tahun 2019.

“Kami dapat intimidasi lagi. Nama kami dicatat karena tidak bertugas, padahal kami memperjuangkan hak kami,” papar satu guru, Raja Ira, Senin.

Wanita berkerudung menyebut bahwa intimidasi dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pekanbaru.

Dinas mengumpulkan absensi guru dari kepala TK, SD dan SMP negeri di Pekanbaru.

“Kenapa harus melihat absensi, padahal aksi kami untuk memperjuangkan tunjangan penghasilan bagi guru sertifikasi,” paparnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal menegaskan tidak ada intimidasi terhadap para guru yang ikut aksi pada Senin siang.

Jamal menilai penyerahan absensi hanyalah bagian dari SOP untuk membuat laporan kehadiran guru.

“Kan untuk laporan saja. Kami ingin memastikan kondisi sekolah, sebab banyak guru yang tidak mengajar. Jadi itu bukan bukan intimidasi,” paparnya.

Jamal memantau aktivitas sejumlah sekolah sepanjang aksi damai guru berlangsung.

Ia mendapatu banyak guru yang tidak masuk mengajar di SMPN 13.

Mirisnya ada delapan lokal tidak ada guru.

Kondisi ini jelas memperlihatkan aksi damai berdampak kepada aktivitas belajar mengajar.

Jamal pun mengumpulkan seluruh kepala sekolah di kantor dinas untuk membahas permasalahan ini.

Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Muhammad Noer MBS menyebut bahwa para guru yang gelar aksi damai adalah Aparatur Sipil Negara (ASN).

Mereka harus mematuhi aturan sebagai ASN.

“Jadi kami tegaskan para guru tidak dalam posisi intimidasi. Kami cuma ingatkan agar para guru meninggalkan tugasnya untuk mengajar,” papar Noer.

Guru Duduk Bersila di Jalan jenderal Sudirman depan kantor Walikota Pekanbaru

Ribuan guru duduk bersila di ruas Jalan Jendral Sudirman depan Kantor Walikota Pekanbaru, Senin (11/3/2019).

Mereka membacakan Surat Yasin untuk Walikota Pekanbaru, Firdaus MT.

Guru menilai hati nurani walikota sudah mati.

Para guru secara bersama membacakan Surat Yasin.

Mereka bertahan dengan cuaca panas di lokasi. Ada di antaranya terpaksa mengenakan payung.

Ribuan guru sertifikasi kembali menggelar aksi turun ke jalan.

Mereka menyampaikan orasi dan membentang spanduk di depan Kantor Walikota Pekanbaru.

Satu persatu perwakilan guru menyampaikan orasi.

Mereka menyampaikan orasi dengan pengeras suara.

Petugas keamanan dari Kepolisian Pekanbaru dan Satpol PP Pekanbaru tampak mengawal di depan pagar Kantor Walikota Pekanbaru.

Tuntutan dalam aksi tersebut masih sama yakni memuntut pembayaran tunjangan penghasilan para guru sertifikasi tahun 2019 ini.

Para guru menuntut agar Peraturan Walikota (Perwako) Pekanbaru Nomor 7 tahun 2019 direvisi.

Perwako itu pada satu pasalnya yakni Pasal 9 Ayat 8 meniadakan tunjangan penghasilan bagi guri sertifikasi pada tahun 2019.

Padahal mereka masih menerima tunjangan penghasilan pada tahun 2018 lalu sebesar Rp 1 Juta per bulan.

Mereka memulai aksi dari Tugu PON.

Ribuan guru jalan bersama menuju Kantor Walikota Pekanbaru.

Ada sejumlah tuntutan yang mereka sampaikan, yakni menyamakan tunjangan penghasilan guru Kota Pekanbaru dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) pemerintah kota.

Mereka juga menuntut agar jangan melecehkan guru.

Tuntutan lainnya yakni menuntut agar jangan ada intimidasi terhadap guru yang menyuarakan haknya.

Tribun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares