Scroll to Top

Mantan Kapolresta Pekanbaru bela otak pembunuh anak kandungnya

By Redaksi Sijoripost / Published on Selasa, 24 Des 2019 16:44 PM / No Comments / 222 views

Kepri, Sijoripost.com – Perwira polisi di Batam bernama Mindo Tampubolon otaki bunuh istri hingga ia divonis seumur hidup namun mertuanya yang merupakan mantan Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol (Purn) James Umboh membela.

Untuk membela menantunya itu, Umboh mengungkapkan beberapa fakta terkait kasus pembunuhan anak kandungnya Putri Mega Umboh.

Sang suami, AKBP Mindo Tampubolon divonis sebagai otak pelaku pembunuhan Putri Mega Umboh dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Delapan tahun kasus itu berjalan, sikap mengejutkan datang dari mertua Mindo yang tak lain adalah ayah kandung Putri Mega Umboh atau korban pembunuhan tersebut yakni Kombes Pol (Purn) James Umboh.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunpekanbaru.com pada Senin (23/12/2019), James Umboh mengungkap sejumlah fakta yang tegas membela Mindo menantunya itu.

Ia membenarkan keterangan tertulis tersebut darinya saat dikonfirmasi Tribunpekanbaru.com pada Senin malam.

‎Umboh meyakini Mindo bukanlah pelaku pembunuhan istrinya.

Adapun tuduhan terhadap Mindo dikemukakan dia adalah rekayasa.

Ia bahkan memohon pertolongan dari Presiden, Ketua Mahkamah Agung dan Kepala Polri agar menantunya dibebaskan dari segala jeratan hukum.

“Anak menantu kami ini bukanlah pelaku. Bahkan dia adalah korban atas pembunuhan sadis atas istrinya,” tegas Umboh.

Ia membeberkan sejumlah fakta kasus yang menjerat Mindo, bekas Perwira Menengah Polda Kepri tersebut, diduga hasil rekayasa.

‎Pertama, James menuding penyidik yang menangani perkara pembunuhan tersebut telah berbohong.

Ini dikemukakannya berdasarkan laporan Tim Penyidik kepada Mabes Polri kala itu.

Merujuk Laporan Pelaksanaan Tugas Asisten tertanggal 10 Agustus 2011, dinyatakan bahwa dari keterangan Ahli Forensik menyebut korban tewas antara pukul 02.00-03.30 WIB.

Padahal, menurut James, korban masih menelepon ibunya sekira pukul 02.00 WIB hingga 02.30 dini hari.

Waktu tersebut sebelum korban dibunuh.

Pada persidangan di Pengadilan Negeri Batam yang bergulir mulai Januari 2012, ditemukan fakta bahwa Ahli Forensik mengemukakan bahwa kematian tidak dapat diketahui karena jasad sudah membusuk.

Betapa tidak, kata Mantan Kapolresta Pekanbaru ini, otopsi dilakukan sebulan setelah korban dimakamkan.

Korban tidak langsung diotopsi setelah jasad ditemukan.

Fakta ini tertuang dalam Putusan PN Batam.

Otopsi pun baru dilakukan setelah keluarga mendesak Direskrimum Polda Kepri.

Umboh mengatakan, keluarga bahkan sampai menemui Kapolda untuk meminta otopsi dilakukan.

“Keluarga baru tahu ternyata jasad korban tidak diotopsi setelah sekitar tiga minggu dimakamkan,” kata Umboh. ‎

Lanjut Umboh, sejumlah fakta dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) juga diduga disembunyikan selama persidangan.

Salah satunya pengakuan pelaku pembunuhan bernama Ujang.

Berbeda dengan keterangan yang dilaporkan penyidik, dalam BAP, Ujang mengaku pembunuhan terjadi pada 07.45 pagi.
‎‎‎
“Padahal pada fakta persidangan, jam tersebut, Mindo sudah berada di Polda Kepri sejak pukul 06.55 WIB diantar anak saya sendiri (korban), putrinya, Kezia dan pembantu rumah tangga, Rosma,” kata Umboh.

Rosma kemudian terseret sebagai pelaku yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Umboh menyatakan, putri korban atau cucunya Kezia menyaksikan kejadian tersebut.

Kezia yang berusia tiga tahun kala itu melihat Ujang menarik korban.

Saat itu, mereka baru tiba di rumah setelah mengantar Mindo ke kantor.

‎”Kezia menyaksikan semua kejadian sadis itu,” tandas dia.

Fakta lain yang disembunyikan dalam persidangan adalah hasil BAP dengan Lie Detector dan Rekomendasi Mabes Polri.

Rekomendasi Mabes Polri antara lain mengambil Call Dial Record (CDR) kontak, rekaman CCTV serta menari supir Taksi dan wanita yang disebut-sebut Ujang juga terlibat.

Rekomendasi sama sekali tidak dilakukan.

“Fakta persidangan mengungkap berbagai kebohongan Ujang dan Rosma serta pertentangan kesaksian satu dengan yang lain,” kata Umboh.

Kejanggalan juga ditemukan dalam reka ulang atau rekonstruksi.

Menurut Umboh, Mindo tidak pernah diberitahu adanya rekonstruksi dan dihadirkan.

Mindo digantikan orang lain dengan penutup wajah dan didadanya bertuliskan “Mindo Tampubolon”.

“Rekonstruksi dilihat langsung oleh ibu korban, istri saya yang hadir di lokasi,” ujarnya. ‎
Umboh menuturkan, rekayasa kasus ini juga diwarnai skenario fitnah terhadap Mindo.

Ujang mengarang cerita tentang wanita selingkuhan Mindo.

“Dalam fakta persidangan, sama sekali tidak pernah ada wanita yang disebutkan itu,” kata Umboh.

Bahkan hingga kini, kata dia, Mindo tidak pernah mempunyai hubungan dengan wanita manapun.

Sampailah pada putusan kasasi Mahkamah Agung.

Umboh mengaku telah mempelajari isi putusan PN, PT sampai MA.

Ujang dihukum lebih berat dari tuntutan jaksa.

Sedangkan Rosma divonis maksimal sesuai tuntutan jaksa.

Keduanya divonis 15 tahun penjara.‎

‎Sedangkan Mindo divonis bebas murni di tingkat PN Batam dari tuntutan seumur hidup oleh JPU.

Di tingkat banding, Putusan PT menguatkan PN.

Namun di tingkat kasasi, hakim MA menjatuhi vonis seumur hidup kepada Mindo atas tuduhan otak di balik pembunuhan tersebut. ‎

“Terlihat ada permainan di dalamnya. Saya dapat menunjukkan bukti dan kami juga sudah konsultasikan dengan dua mantan Hakim Agung,” kata pria asal Minahasa ini.

Putusan tersebut telah memisahkan Mindo dengan putrinya Kezia yang menjadi piatu.

‎‎Sebagai seorang polisi yang berpengalaman di bidang Reserse, Umboh mengaku mempunyai naluri.

Ia sangat yakin Mindo bukanlah pelaku yang menghabisi nyawa istri, putrinya itu.

“Dengan hati nurani yang waras dan bertakwa kepada Tuhan, tidak mungkin saya mampu mengatakan bahwa menantu saya bukan pelakunya, jika memang dialah pelakunya,” kata Umboh.

Oleh karena itu, ia meminta siapapun tidak menyebar fitnah keji yang semakin menambah derita keluarga, Mindo dan Kezia.

Umboh mengatakan, keluarga masih terus berjuang mencari keadilan untuk Mindo.

Pihaknya akan menempuh upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) terhadap putusan MA.

Mindo kini mendekam di Lapas Kelas II A Barelang, Batam.

Ia dijemput dari persembunyiannya di Lampung pada 25 Juni 2019 lalu.

Penangkapan dan penahanan Mindo dilakukan Kejari Batam untuk mengeksekusi putusan MA.‎

Mindo merupakan lulusan Akpol tahun 1995.

Saat kejadian itu, ia menjabat Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri.

Sebelumnya, Mindo pernah bertugas di Densus Polda Kepri.

Selama enam tahun, Mindo buron.

Ia kabur setelah divonis seumur hidup oleh MA.

Selama pelariannya, Mindo ternyata tinggal bersama putrinya dan kedua mertuanya James Umboh dan Getruida Winanda Mosse atau Getwien Mosse.‎

Awal petaka dialami keluarga Mindo pada Juni 2011.

Mindo kehilangan istrinya, Putri Mega Umboh dan putri semata wayangnya, Kezia, hilang sejak Jumat (24/6/2011) dan tidak kembali hingga Minggu (26/6/2011) pagi.

Rosma juga tidak ada di rumah.

Hilangnya istri dan putrinya itu, diketahui Mindo saat pulang ke rumah di Perumahan Anggrek Mas III, Batam, Jumat.

Jumat pagi, Mindo diantar ke kantor di Mapolda Kepri oleh istrinya (korban), putrinya dan pembantunya, Rosma.

Mindo juga tidak mendapati pembantunya.

Mobil miliknya, Nissan X-Trail hitam bernomor polisi BP 24 PM juga raib.

Kehilangan anggota keluarga dilaporkannya ke Polresta Barelang pada Jumat malam kala itu. ‎

Lalu pencarian pun dilakukan.

Sabtu jelang tengah malam, ia mendapat kabar dari rekan sesama polisi kalau putrinya telah ditemukan di sebuah kamar Hotel Bali yang berlokasi di kawasan Jodoh, Batam.

Ujang dan Rosma juga ditemukan. ‎

Setelah didesak untuk memberitahu keberadaan istrinya, Ujang pun mengaku telah membunuh korban dan membuang mayatnya di kawasan hutan di Telaga Punggur.

Berjarak sekitar 100 meter dari Pelabuhan Domestik Telaga Punggur.

Ujang dan Rosma pun diproses hukum.

Penyidikan berkembang dan menyeret nama Mindo selaku otak kejahatan tersebut.

Mindo ditetapkan jadi tersangka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares