Scroll to Top

Mengungkap Makna Kerajaan Allah Yang Sejati

By Redaksi Sijoripost / Published on Minggu, 14 Jul 2019 15:37 PM / No Comments / 101 views

Gerakan setiap para Rasul atau Utusan Allah adalah gerakan mesianis , yakni gerakan yang membebaskan umatnya dari keterpurukan dan keterkutukan dosa, mengeluarkan umatnya dari kondisi yang gelap (zaman kutukan) kepada terang (zaman penuh keberkahan), disebabkan karena umat tersebut telah melanggar atau merusak perjanjian abadi yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan (system hukum) Allah. Dengan demikian gerakan setiap para rasul adalah membangkitkan kerajaan Allah yang telah runtuh di muka bumi. Gerakan mereka juga disebut gerakan apokaliptik yang menantikan tindakan campur tangan Allah di dalam sejarah “sesegera mungkin” untuk menegakkan kerajaan Allah sebagaimana yang telah dijabarkan secara rinci oleh para nabi yang telah bernubuat tentang kedatangan para mesias yang akan menggenapi nubuat para nabi.

Gerakan apokaliptik memberikan penekanan pada hampir tibanya “akhir zaman” beserta penggenapan janji-janji Allah pada saat tersebut. Akhir zaman disini yang dimaksudkan bukanlah hari Armagedon, bukan pula persepsi eskatologis tetapi adalah akhir dari zaman dunia lama dan berganti kepada zaman dunia baru, atau disebut dengan istilah suksesi kekuasaan peradaban di dunia.

Kerajaan Allah ini adalah sebuah era baru yang diwarnai oleh keadilan, kebenaran, damai dan sejahtera bagi seluruh umat manusia, yang dipusatkan kepada bangsa yang dipilih oleh Allah sebagai pusat peradaban dunia, dari sanalah akan memancar pengetahuan tentang Allah serta etika universal yang dikandung dalam hukum Allah bagi semua bangsa di seluruh dunia.

Kerajaan Allah merupakan politik legal yang harus tergenapi dalam kehidupan masyarakat dunia. Kerajaan Allah merupakan lembaga resmi yang menjalankan aturan Allah, menjalankan kekuasaan Allah, dan menjalankan ketaatan hanya kepada Allah semata. Di dalam Al-kitab banyak ayat-ayat yang mendeskripsikan tentang kerajaan Allah yang dimaksud oleh Yesus, dan secara kongkrit Kerajaan Allah itu sendiri adalah kekuasaan politik yang dibangun oleh Yesus.

Kerajaan Allah bukanlah sebuah sekadar perasaan ataupun konsep abstrak. Ia dijelaskan dengan bahasa yang konkrit dan spesifik. Kata “Kerajaan”, baik dalam bahasa Ibrani dan Yunani, berarti “pemerintahan” atau “penguasaan”. Makna yang sama ini kita temukan dalam frasa “kerajaan” Herodes maupun “penguasaan” Romawi. Doa yang diajarkan Yohanes dan Yesus mendefinisikan Kerajaan Allah sebagai “terjadinya kehendak Allah di bumi ini” seperti yang sudah terlaksana di sorga. Yang dimaksud bukanlah sebuah kerajaan yang ada di sorga, tetapi mengemukakan ide tentang penguasaan sorgawi yang menerobos ke dalam sejarah manusiawi dan menyatakan dirinya di muka bumi. Frasa ini dipahami secara harfiah, implikasinya jelas-jelas sebuah revolusi di bumi manusia, penghancuran secara penuh dari status quo tatanan (politik, social, dan ekonomi) yang lama, dan berganti dengan tatanan yang baru seperti kehidupan yang ada di sorga.

Yesus berkata : “Berbaliklah dari dosa-dosamu, karena kerajaan Allah sudah dekat di ambang pintu, penghakiman sudah menjelang tiba.” Tentu apa yang Dia katakan adalah sebuah nubuat yang akan segera terjadi pada zaman nya sendiri yang akan segera tiba, bukanlah terjadi pada nanti waktu akhir zaman yesus turun yang kedua kali. Orang menggambarkan diri Yesus adalah tokoh mesias rohanis, sedangkan dalam setiap ucapannya dan tindakannya mencerminkan Dia adalah tokoh politis yang revolusioner , yang benar-benar mengharapkan penghancuran kerajaan-kerajaan duniawi (bumi) dan berganti dengan kerajaan Allah.

Yesus mempunyai program atau agenda dalam misi mesianiknya, yaitu : “ Berkuasa atas Israel dengan menduduki tahta Daud, Membersihkan Yerusalem dan Tanah Israel dari penguasa asing, Menegakkan kekuasaan berlandaskan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan, Memisahkan para pendosa dari umat Israel, Mengumpulkan suku-suku Israel yang selama ini tercerai berai (yang diamsalkan mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan, seperti dalam Yehezkiel pasal 37 ), dan Meluaskan kekuasaannya kepada semua bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah, sehingga bumi menjadi buminya Allah.”

Sebagai Raja yang akan duduk dalam kerajaan Allah nantinya, dalam artian sebelum Kerajaan Allah tegak secara nyata di muka bumi (ini sudah terjadi pada zamannya), Yesus mengambil langkah untuk mendirikan sebuah “pemerintahan” sementara yang terdiri dari sebuah kabinet inti atau Kelompok Dua Belas. Dari antara para pengikut-Nya, Yesus memilih dua belas orang yang Ia tunjuk sebagai “utusan-utusan” atau wakil-wakil. Dan Dua belas orang tersebut tentu masing-masing akan menunjuk dua belas orang dibawahnya secara sistematik. Inilah makna dari kata yunani yang biasanya diterjemahkan sebagai “rasul”. Maksud utama dari langkah ini mengisyaratkan bahwa ketika pemerintahan-Nya dapat beroperasi secara penuh, masing-masing dua belas orang ini akan menduduki sebuah tahta, masing-masing satu tahta bagi dua belas suku Israel (Lukas 22 : 30).

Jadi sebelum tegaknya kerajaan Allah di bumi, pasti yang dilakukan oleh para Utusan Allah yakni Muhammad, Yesus, dan Musa adalah menghimpun umat dalam “sebuah komunitas” untuk membangkitkan kerajaan Allah di muka bumi. Inilah yang dimaksud sebagai kitab kejadian , yakni “menjadikan” ummat yang independent, yang mempunyai “ideologi” yang satu (esa/tauhid) kepada Allah, hanya kepada Allah saja, bukan lagi kepada sesembahan-sesembahan raja-raja di bumi. “Menjadikan” Allah sebagai raja di bumi manusia, yang secara konkrit adalah tegaknya kerajaan Allah di muka bumi. Firman Allah, jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku, Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi, Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.

Kita lihat fakta sejarah perjalanan Bani Isr ae l . Sebelum dibebaskan oleh Musa pada kali yang pertama, mereka adalah bangsa budak, yang diperbudak oleh fir’aun di negeri Mesir, mereka tidak punya tanah air, hidup numpang di negeri mesir. T atkala Musa datang untuk menyadarkan Bani Israel tentang esensi pengabdian kepada Allah, maka mereka mengetahui akan dirinya, mereka tidak mau diperbudak lagi , karena esensinya dia adalah budak Allah, tidak boleh ada yang berhak menjadi tuan dalam dirinya kecuali Allah. Maka Musa dalam kitab kejadian “menjadikan” Bani Israel sebagai umat atau komunitas yang independent, yang mempunyai “ideologi” yang satu (esa/tauhid/ekhad) kepada Allah, hanya kepada Allah saja, bukan lagi kepada raja di bumi, yakni Fir’aun. Tatkala Bani Israel, mengetahui dirinya bahwa esensinya dia adalah budak Allah, yang di dalam kitab Allah tertulis, Firman Allah: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadi abdi atau budak Aku”, sesungguhnya mereka (bani Israel) diciptakan untuk mengabdi hanya kepada Allah, bukan kepada Fir’aun yang mengaku diri sebagai tuan. Maka terjadilah sebuah kebangkitan. Ruh All a h masuk di dalam diri bani Israel . Bani Israel bangkit untuk melepaskan diri dari perbudakan . Apa yang dimaksud dengan membangkitkan? yakni d ari tidak sadar, menjadi sadar. Dari orang yang tidak tahu harga dirinya, menjadi tahu harga dirinya. Dari orang yang tadinya mati, sekarang dia bangkit hidup. Tentu saja setelah ditiupkan ruh kepadanya . Maka Bani Isr ae l bangkit dari kematian nya . Dan sejarah mencatat, bani Israel yang tadinya menjadi bangsa budak, kemudian dia sadar dan bangkit dari perbudakan, dan Allah telah menuntunnya, maka Bani Israel diangkat oleh Allah, ditinggikan derajatnya, dimuliakan di antara bangsa-bangsa yang lain, menjadi bangsa yang memimpin dunia, menjadi wasit daripada dunia. Itulah nikmat yang dulu pernah Allah berikan kepada Bani Israel, karena bani Israel mau beriman kepada Allah. Tetapi sekarang Bani Israel telah meninggalkan Allah, dan Allah pun meninggalkan Bani Israel.

Kerajaan Allah adalah suatu keniscayaan yang ada di muka bumi, yang tentu sesuai dengan hukum tradisi Allah akan saling silih berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa. Dengan kata lain, Kerajaan Allah kadang eksis di muka bumi, kadang tenggelam di muka bumi. Itu suatu keniscayaan. Bagimana mungkin manusia bisa beribadah kepada Allah kalau tidak ada tempatnya, bagaimana mungkin pula manusia bisa melakukan persembahan-persembahan kepada Allah kalau tidak ada wadahnya. Tempat-tempat peribadatan, sebenarnya adalah simbol dari perwujudan kerajaan Allah yang tegak di muka bumi. Segala sesuatu ada simbolnya, dan segala simbol ada maknanya. Amerika serikat mempunyai simbol patung liberty, Indonesia mempunyai simbol tugu monument nasional. Jadi kalau kerajaan Allah sudah tidak ada lagi dalam artian sudah hancur dan berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa yang berdiri atas pilar ideologi manusia, terus apakah fungsi dari pada tempat-tempat peribadatan itu sendiri? Sehingga mengertilah kita mengapa Tu(h)an Allah dalam kitabnya sangat membenci adanya persembahan-persembahan di bait Allah itu sendiri, sementara Kerajaan Allah hancur di muka bumi. Selama kerajaan Allah tidak ada di muka bumi, selama itu pula manusia tidak bisa beribadat kepada Tu(h)an semesta alam. Bangun dulu kerajaan Allah, baru bisa melakukan peribadatan kepada-Nya.

Perhatikan Kitab ratapan 2 : 7 : “Tuhan membuang mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya, menyerahkan ke dalam tangan seteru tembok puri-purinya.”

Perlu difahami bahwa Kitab Ratapan adalah bani Israel meratap kepada tu(h)an Allahnya. Itu terjadi ketika kerajaan Allah yang dibangun oleh Musa sudah hancur berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa. Mereka dalam kondisi yang benar-benar meratap, yakni sangat menderita dan sengsara karena dijajah dan diperbudak oleh bangsa-bangsa (Babilonia, Media persia, Yunani, Romawi). Sehingga untuk mengenang itu dibangunlah Tembok Ratapan”. Pada saat itu Tu(h)an membuang Mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya. Sehingga mereka (Bani Israel) tidak bisa melakukan persembahan-persembahan lagi di mezbah atau di tempat-tempat kudus mereka.

Setelah meratap sekian abad (ratusan tahun), maka ratapan mereka akhirnya didengar oleh Tu(h)an Allah. Allah hendak mengampuni dosa-dosa mereka (dosa karena merusak perjanjian, dosa karena Yerusalem telah jatuh), dengan terlebih dahulu mereka yakni Bani Israel harus mengadakan ikatan perjanjian dulu kepada Allah, karena perjanjian yang pertama di waktu Musa (perjanjian lama) telah mereka khianati. Maka dengan demikian mengertilah kita kenapa ada perjanjian baru atau perjanjian yang kedua bagi Bani Israel. Perjanjian ini diikat oleh seoarang pembebas yaitu Yesus atau Isa Al-Masih. Dia-lah yang membebaskan Bani Israel dari keterkutukan dosa, dan mengangkatnya kembali menjadi umat yang diberkati oleh Allah.

Tetapi setelah mereka diangkat kembali yang kedua kali oleh Yesus Utusan Allah untuk menjadi umat yang diberkati, maka setelah sekian abad mereka menguasai dunia, mereka lupa lagi terhadap perjanjiannya, sama seperti yang pertama di waktu Musa, mereka merusaknya kembali, dan akhirnya mereka kembali jatuh menjadi umat kutuk lagi atau umat budak bangsa-bangsa lagi. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares