Scroll to Top

Pertamina tak kunjung tambah kuota premium di Riau

By Redaksi Sijoripost / Published on Kamis, 12 Apr 2018 20:14 PM / No Comments / 27 views
Ilustrasi

Pekanbaru, Sijoripost.com – Tuntutan masyarakat Riau, khususnya Kota Pekanbaru kepada Pertamina hingga pekan kedua April ini, agar kuota BBM jenis premium ditambah, nampaknya belum terealisasi.

Hal ini dibuktikan di beberapa SPBU di Kota Pekanbaru Kamis siang (12/4/2018), masih terjadi antrian panjang di pompa premium.

Seperti SPBU Jalan Srikandi, SPBU Jalan Soekarno Hatta, SPBU Nangka, SPBU Ababil, SPBU Jalan Riau, SPBU Simpang Arifin Ahmad-Sudirman dan beberapa SPBU lainnya.

Tampak antri mengular, karena pasokan premium terbatas.

Padahal, di antara tuntutan mahasiswa Riau, saat menggelar demonstrasi dua pekan lalu di Kantor DPRD Riau, menuntut kuota premium aman dan ditambah, dan menurunkan harga partalite.

“Kalau partalite kan Perda-nya sudah disahkan. Sekarang sedang diverifikasi di Kemendagri. Namun untuk premium, harusnya tidak perlu menunggu penerapan Perda Partalite. Sekarang sudah bisa ditambah,” harap Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Sigit Yuwono ST.

Menurutnya, Pertamina tidak perlu banyak alasan, karena masyarakat sudah tahu selama ini ada permainan.

Bahwa pernyataan Pertamina tren masyarakat banyak menggunakan partalite meski diturunkan harganya nanti, itu merupakan bualan murahan.

Buktinya sampai sekarang, masyarakat lebih banyak menggunakan premium, dengan rela antri panjang.

Sementara pengguna partalite tidak terlalu banyak.

“Kita juga yakin, meski Perda BBM nanti diterapkan dengan harga partalite dari Rp 8.150 per liter menjadi Rp 7.750 per liter (pajaknya turun dari 10 persen menjadi 5 persen), masyarakat lebih memilih premium. Karena harga jauh lebih murah (Rp 6.650 per liter),” tambahnya.

Karena sudah terlalu lama masyarakat menderita, selaku wakil rakyat yang digaji rakyat, politisi senior Demokrat ini mendesak Pertamina, segera menambah kuota dan memastikan stoknya aman.

Pertamina tak perlu berspekulasi, apalagi menyebut masyarakat kini sudah cenderung menggunakan partalite.

“Kabulkan saja permintaan masyarakat ini, kembalikan seperti semula. Jangan tipu masyarakat,” pintanya.

Sebelumnya, dari hasil pertemuan Pemprov Riau dengan Pertamina Februari lalu, membicarakan masalah pendistribusian jenis Premium, terungkap bahwa Premium di Riau realisasinya 66 persen dari kuota.

Padahal informasi dari BP Migas, kuota premium untuk Riau secara nasional sekitar 70 persen.

Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi mengakui, kondisi ini terjadi berarti ada aksi korporasi dari Pertamina untuk membatasi penyaluran premium. “Ini harus ditindak tegas,” sebutnya.

tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares