Scroll to Top

Ruli dan Kebun Menjamur di Kawasan Dam

By Redaksi Sijoripost / Published on Jumat, 26 Apr 2019 00:06 AM / No Comments / 151 views

Batam, Sijoripost.com – Dam atau waduk adalah sumber air bagi masyarakat Batam. Sayangnya, kawasan dam banyak dimanfaatkan sejumlah warga membangun rumah liar (ruli) hingga perkebunan. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, untuk menjaga kelangsungan dam jangka panjang.

Apalagi, melihat sejumlah dam saat ini mengalami pendangkalan bahkan ada yang sudah mengering. Kondisi tersebut sangat mengganggu ketersediaan air bersih sebagian masyarakat Batam, karena minim mendapatkan pasokan air bersih dari PT Adhya Tirta Batam (ATB).

Di sekitar Dam Mukakuning, ruli terus bertambah. Kebun juga semakin luas di sekitar dam. Bekas kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu mulai digarap dan dijadikan kebun. Tetapi tidak ada penindakan dari aparat terkait.

”Kami yang tinggal di sini tidak mungkin melarang ada yang membangun ruli di atas sana. Sama-sama tak punya izin pak. Mau bagaimana lagi,” kata seorang warga ruli sekitar Dam Mukakuning, Selasa (24/4/2019).

Dia menyebutkan di permukiman ruli kawasan Dam Mukakuning, sudah tinggal ratusan kepala keluarga. Dan kalau tidak dibatasi, bukan tidak mungkin semua hutan yang ada di kawasan itu akan dibabat dan dijaikan ruli dan kebun.

Demikian halnya di sekitar Dam Tembesi yang saat ini masuk dalam tahap lelang. Selain tambang pasir ilegal, warga menjadikan daerah tangkapan air di kawasan tersebut menjadi lahan perkebunan. Ada yang menanam pisang, kecang panjang, dan tumbuhan lainnya.

”Kami sudah lama di sini berkebun pak, dan kami tidak merusak kok,” ujar Nikson, petani di sekitar Dam Tembesi.

Nikson mengatakan, menanam sayur di lahan yang memang kosong. Dimana sebelumnya lahan di sana adalah bekas galian pasir ilegal.

”Jadi, bukan kami yang menghabisi pohon-pohon di sini,” katanya.

Kebun di sekitaran dam Tembesi.
Sebelumnya, Dirpam BP Batam Brigjen Suherman mengatakan, pihaknya sudah melakukan razia, dan beberapa kali BP Batam sudah melakukan penertiban di sekitar dam.

”Kami sudah melakukan penertiban kok. Dan akan terus kita lakukan. Kita tidak diam kok,” ujarnya.

Hujan Belum Beri Dampak

Sementara itu, hujan yang mengguyur wilayah Kota Batam beberapa hari terakhir ini, belum memberikan dampak terhadap debit air di Dam Belakangpadang. Ini disampaikan Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Dam Belakangpadang dan SWRO Dian Efsa, Rabu (24/4).

Ia mengatakan, untuk membuat debit air bertambah setidaknya membutuhkan hujan selama tiga hari berturut-turut. Saat ini keadaan dam yang sudah mengering membuat air langsung diserap tanah.

”Tanahnya kan sudah retak, jadi air yang turun langsung diserap tanah,” sebutnya.

Untuk itu, pihaknya masih mengoptimalkan fungsi SWRO yang baru kembali beroperasi. Setiap hari kebutuhan air di Belakangpadang mencapai seribu kubik. Pemenuhan kebutuhan berasal dari SWRO 200 kubik dan Dam Belakangpadang 800 kubik.

”Sekarang kami melayani hampir dua ribu pelanggan. Kondisi saat ini memang belum bisa memenuhi kebutuhan warga,” terangnya.

Karena ini disebabkan faktor alam, ia berharap hujan bisa turun cukup lama agar debit air di dam bisa bertambah. Meskipun saat ini pihaknya masih berusaha mengolah sisa-sisa air dari dam.

”Selagi ada kami akan olah. Tapi kalau tidak ada lagi ya mau gimana lagi selain berharap hujan turun. SWRO juga tak bisa dipaksa bekerja 24 jam karena sistemnya manual,” ungkapnya.

Untuk mengolah air bersih ini, petugas bahkan harus bekerja lembur. Karena sistem manual memerlukan pengecekan yang lebih detail.

”Yang dihasilkan kan tidak sebanyak yang biasa. Kadang mereka harus kerja ekstra demi menghasilkan air bersih agar kebutuhan warga bisa terpenuhi,” terang Dian.

Camat Belakangpadang Yudi Admajianto mengatakan, sudah dua hari ini hujan mulai turun di Belakangpadang. Saat ini warga juga telah menikmati air bersih yang dialirkan melalui SWRO.

”Alhamdulillah, sudah dua hari hujan. Kami berharap debit air di dam bisa bertambah,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, untuk mendapatkan air bersih warga juga berusaha mendapatkan air bersih dari luar. Warga membeli air dari Batam untuk memenuhi kehidupan mereka.

”Ada juga yang beli dari luar. Karena memang sangat membutuhkan,” sebutnya.

Sebelum warga Belakangpadang mengeluhkan karena kesulitan mendapatkan air bersih. Hal ini karena me-ngeringnya Dam Belakangpadang dan ada gangguan SWRO. Namun, pasca diperbaiki warga kembali mendapat air bersih meskipun belum maksimal

 

 

batampos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares