Scroll to Top

Selain Batam, Wanita di Pekanbaru & Sidoarjo ini juga diciduk Polisi karena sebar berita Hoaks Gempa

By Fitri Laurencia / Published on Jumat, 05 Okt 2018 11:57 AM / No Comments / 116 views
Hoax ilustrasi.net

Pekanbaru, Sijoripost.com – Aparat kepolisian terus menunjukkan sikap tegasnya terhadap penyebar berita bohong yang meresahkan masyarakat.

Setelah menciduk seorang penyebar berita hoaks terkait gempa di Batam, dua orang wanita, satu di Pekanbaru dan 1 lainnya di Sidoarjo, juga ditangkap dalam kasus yang sama, sebar berita hoaks terkait gempa melalui media sosial.

Seorang wanita di Pekanbaru berinisial ML ditangkap lantaran menyebar kabar hoaks melalui akun Facebook-nya berinisial LI.

Pelaku ditangkap di rumahnya di Jalan Patin, Tangkerang Barat, Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau, Rabu (3/10/2018).

Kamis (4/10/2018) Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mengatakan, ML ditangkap terkait adanya laporan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terkait penyebaran berita hoaks mengenai bencana gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sunarto mengatakan, pelaku sempat menyebar berita hoaks pada Selasa (25/9/2018).

Kemudian berita hoaks diunggah kembali Sabtu (25/9/2018).

Lalu terakhir Selasa (2/10/2018), pelaku kembali menyebar berita hoaks bahkan pelaku juga membuat berita hoaks terkait gempa di Palu dan membuat kabar hoaks jika akan ada gempa susulan.

Hal tersebut membuat masyarakat resah.

Polisi pun menangkap pelaku.

“Motif pelaku dengan tujuan ingin dibaca dan diketahui oleh teman-temannya di Facebook dan berharap dapat banyak komentar,” kata Sunarto dikutip dari Kompas.com.

Dia mengatakan, pelaku mengaku hanya ikut-ikutan dan ditujukan untuk teman-teman Facebook yang ada di grup Prabowo For NKRI.

Mengutip Kompas.com, berikut salah-satu postingan akun Facebook LI.

“Ketahanan bumi ini sudah semakin lemah… karena terlalu banyak bangunan yang bertingkat-tingkat dan dibuat dan tol-tol sehingga bencana bertubi-tubi datangnya. Ini karena akhir zaman. gempa demi gempa saling bersahutan di berbagai provinsi.

Ini untuk saling mengingatkan agar bertobatlah penghianat negara dan karena prediksi BMKG Jakarta dan Jawa sekitarnya akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan 8,6. Tetapi tidak tau kapan terjadinya… Persiapan untuk siaga saja dan berdoa semoga selamat dari bencana ini.”

Selain di Pekanbaru, seorang ibu rumah tangga di Sidoarjo berinisial UUF juga ditangkap polisi karena menyebar berita hoaks di media sosial.

Melansir Surya.co.id, wanita dari Kecamatan Krian itu menyebar berita tidak benar tentang gempa 9,5 SR yang akan terjadi di Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mewaspadai akan terjadinya gempa besar di pulau Jawa beberapa waktu ke depan.

Wanita itu memposting berita hoaks tersebut melalui Facebook setelah adanya bencana di Palu dan Donggala.

Saat diperiksa, UUF mengaku dapat berita tersebut dari group Whatsapp dan dia ingin mengingatkan masyarakat.

Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan mengatakan, pelaku telah menyebarkan berita bohong melalui akun Facebook dan harus ditindak sesuai arahan Presiden Jokowi terkait banyaknya berita hoaks pascagempa.

Di Batam juga ada yang ditangkap karena berita hoaks terkait gempa.

Pelaku bernama JA ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penyebar hoax hanya menunduk saat eskpos digelar di Polda Kepri, Rabu (3/10/2018).

JA ditangkap Ditreskrimsus Polda Kepri atas positingan di Facebook milikinya dengan foto mayat perempuan bertuliskan “Mayat (Lili Ali) Yang Minta Gempa Kemarin”.

Dirkrimsus Polda Kepri, Kombes Pol Rustam Mansur yang memimpin ekspos mengatakan, penangkapan tersebut, atas postingan pada 30 September 2018 lalu yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Hal ini pun diungkap Patroli Cyaber Polda yang juga menemukan postingan itu, sebab ini informasi yang bohong dan membuat resah masyarakat,” katanya saat ekspos turut dihadiri Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol S Erlangga, Rabu (03/10/2018).

Disampaikanya, tersangka yang tinggal di kawasan Sekupang, Batam ini awalnya mendapatkan foto korban gempa, lalu tersangka malah memposting dengan bahasa yang menyebabkan keresahan.

“Pertemanan di akun FB tersangka juga banyak, dan postingan itu sampai kesebar di berbagai grup what’s up,” ucapnya.

Atas perbuatan tersangka dijerat pasal 11 ayat 2 , dan pasal 15 Undang -undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

“Kasus ini juga sebagai pelajaran bagi kita semua, agar lebih bijak bermedia sosial. Jangan menyebar berita yang bohong. Saring dulu sebelum di share,” katanya.

tribun
Tag:
loading...
|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares