Scroll to Top

Sulit padamkan api, Kalaksa BPBD Meranti: Minimal BPBD membutuhkan anggaran sebesar Rp900 juta

By Fitri Laurencia / Published on Rabu, 14 Feb 2018 08:38 AM / No Comments / 85 views
Proses pemadaman Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) di Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti, Rabu (7/2/2018).

Selatpanjang, Sijoripost.com – Sejak empat hari lalu, ratusan anggota tim gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kepulauan Meranti, Luas lahan yang terbakar diperkirakan sudah lebih 100 hektare.

Kebakaran yang terjadi pada 9 Februari lalu ini masih dalam penanganan tim di lapangan yang saat ini masih membara.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kepulauan Meranti, M Edy Afrizal mengungkapkan, upaya pemadaman kebakaran lahan itu menghadapi kesulitan, karena hembusan angin kencang dan kurangnya selang untuk menjangkau lokasi dari sumber air.

“Kendala dilapangan yakni angin kencang, tanah gambut, kebun sagu dan semak belukar yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, serta luasnya areal yang terbakar sehingga sulit dijangkau karena kurangnya selang,” ungkapnya, Selasa (13/2/2018).

Dikatakan, lokasi kebakaran lahan itu berada di koordinat N 00°53’13.5″ E 102°47’58.4″. Jenis lahan yang terbakar yakni kebun sagu masyarakat, semak belukar dan hutan.

“Saat ini penyebab kebakaran masih dalam lidik Polsek Tebingtinggi,” kata Edy.

Untuk memadamkan api, jelasnya, tim telah membawa peralatan maksimal yang dimiliki, antara lain 1 unit speedboat mercury 300 PK, 1 unit speedboat mercury 40 PK, 1 unit mesin Kholern14 hp, 1 unit mesin Shibaura, 2 unit mesin portable ministrike.

Kemudian 7 unit mesin merk shibaura, honda dan robin milik PT. NSP, 7 unit mesin robin, Firehose 2.5 inch 80 roll, Firehose 1.5 inch 30 roll, Nozle 2.5 inch 5 unit, Nozle 1.5 inch 12 unit, Y connection 2.5 ke 1.5 inch 4 unit dan Y connection 1.5 ke 1.5 inch 6 unit.

Adapun kekuatan personel yang masih berada di lapangan, terdiri dari BPBD 25 orang, Polsek Tebingtinggi 6 orang, Koramil 5 orang, Pemerintah Kecamatan 3 orang, perangkat Desa, MPA dan masyarakat Desa Lukun 60 orang, Karyawan Kilang Sagu 30 orang dan Tim Fire PT NSP 28 orang.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti itu juga mengeluhkan turunnya anggaran penanggulangan Karhutla.

Edy Afrizal mengatakan, anggaran khusus untuk penanggulangan Karhutla pada 2018 ini hanya Rp120 juta saja.

“Pagu anggaran kami pada tahun ini memang Rp4,4 miliar, namun khusus penanggulangan Karhutla hanya Rp120 juta,” ujar Edy Afrizal.

Jumlah tersebut kata Edy, sangat menurun jika dibandingkan anggaran pada tahun 2017 lalu yang mencapai Rp346 juta.

“Dengan anggaran sekecil itu, kita juga harus gencar melakukan patroli dan sosialiasi,” ujarnya.

Padahal kata Edy, untuk penanggulangan dan pencegahan Karhutla, minimal BPBD membutuhkan anggaran sebesar Rp900 juta.

Pasalnya, sebagian besar wilayah daratan di Meranti sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

“Lahan dan hutan di Meranti mayoritas lahan gambut, sebab itu sangat rawan terbakar. Apalagi Februari ini diprediksi sudah memasuki musim kemarau,” ujarnya.

halloriau.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares