Scroll to Top

Trump sebut AS juga punya tombol nuklir besar, ternyata ini faktanya

By Fitri Laurencia / Published on Kamis, 04 Jan 2018 14:47 PM / No Comments / 774 views
Ajudan militer Gedung Putih membawa ‘nuclear football’ yang selalu mengikuti Presiden AS

Washington DC, Sijoripost.com Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un bahwa dirinya memiliki tombol nuklir yang jauh lebih besar dan lebih kuat. Sebenarnya seperti apa wujud tombol nuklir yang dimaksud Trump ini?

Seperti dilansir CNN, Kamis (4/1/2018), seorang Presiden AS tidak memiliki tombol nuklir di mejanya. Adalah sebuah tas tangan atau tas koper kecil bernama ‘nuclear football’ yang menjadi ‘sarana’ Presiden AS untuk memberikan izin bagi diluncurkannya sebuah serangan nuklir.

Baca juga: Balas Kim Jong-Un, Trump: Saya Juga Punya Tombol Nuklir Lebih Besar

Tas ini selalu mengikuti Presiden AS ke mana saja dia bepergian dan saat dia berada jauh dari pusat komando seperti yang ada di Ruang Situasi Gedung Putih di Washington DC. Tas berwarna hitam ini selalu dibawa oleh ajudan Presiden AS. Perlu diketahui bahwa tas ini tidak berisi tombol, melainkan peralatan dan dokumen-dokumen pengambilan keputusan yang akan digunakan Presiden AS saat memerintahkan peluncuran serangan.

“Presiden sendiri tidak bisa menekan tombol dan membuat rudal-rudal meluncur. Dia hanya bisa memberikan perintah resmi yang akan diikuti oleh pihak lain dan kemudian rudal akan meluncur,” ujar Dr Peter Feaver yang merupakan profesor kebijakan publik dan ilmu politik pada Duke University, North Carolina, kepada anggota parlemen AS, tahun lalu.

“Sistemnya bukan sebuah tombol yang bisa secara tidak sengaja tertekan Presiden yang sedang bersandar di mejanya dan tiba-tiba membuat rudal-rudal meluncur, seperti yang saya pikir dikhawatirkan banyak orang di publik,” imbuhnya.

Baca juga: Keluarkan Retorika Panas, Trump Jadi Bulan-bulanan

Dijelaskan Feaver bahwa keputusan untuk melancarkan serangan memerlukan Presiden AS bekerja sama dengan ajudan-ajudan militernya yang membawa material-material yang diperlukan untuk memerintahkan sebuah serangan. Dibutuhkan juga koordinasi dengan berbagai personel militer dari semua level, mulai dari komandan tertinggi hingga ke perwira militer yang bertugas di silo-silo rudal AS.

Baik berada di Gedung Putih, atau dalam iring-iringan kendaraan, atau di dalam pesawat kepresidenan Air Force One atau saat dalam kunjungan ke luar negeri, Trump tidak pernah jauh dari ajudan yang membawa ‘nuclear football’. Sang ajudan yang membawa ‘nuclear football’ itu masuk ke dalam lift yang sama dan menginap di hotel yang sama dengan Trump, serta dan dikawal oleh agen Secret Service yang sama.

Terdapat juga sebuah ‘nuclear football’ untuk Wakil Presiden AS yang bisa digunakan jika Presiden AS tidak mampu mengambil keputusan.

Baca juga: Bela Trump, Gedung Putih: Rakyat Harusnya Khawatir Soal Kim Jong-Un

Dituturkan mantan Direktur Kantor Militer Gedung Putih, Bill Gulley, dalam bukunya berjudul ‘Breaking Cover’ bahwa ‘nuclear football’ yang memiliki nama resmi ‘Presidential Emergency Satchel’ ini terdiri atas empat objek di dalamnya. Keempatnya terdiri atas sebuah buku hitam berisi menu opsi serangan; kemudian sebuah kartu berukuran 7×12 cm berisi authentication code bagi Presiden AS untuk mengkonfirmasi identitasnya; lalu sebuah daftar bunker yang aman tempat Presiden AS berlindung; dan sebuah instruksi untuk menggunakan Sistem Penyiaran Darurat (EBS).

Sebagian besar proses peluncuran nuklir tergolong informasi rahasia. Namun purnawirawan Angkatan Udara Jenderal Robert Kehler yang sebelumnya menjabat Komandan Komando Strategis AS pada era Presiden Barack Obama, menyebut ada pengamanan berlapis dalam sistem yang dirancang untuk memastikan perintah serangan diberikan secara legal dan pantas.

“Ini merupakan sistem yang dikendalikan manusia … tidak ada yang terjadi secara otomatis,” sebut Kehler, sembari menekankan bahwa militer AS tidak begitu saja mematuhi perintah dan setiap perintah peluncuran nuklir dari presiden haruslah legal. Dibutuhkan konsultasi dan pengkajian dengan pemimpin sipil dan militer sebelum nuklir sungguh-sungguh diluncurkan.

detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares