Scroll to Top

Turis asal Australia ketawa terpingkal pingkal ketika mencoba kerokan tradisi Bali

By Redaksi Sijoripost / Published on Sabtu, 06 Okt 2018 21:22 PM / No Comments / 191 views
Facebook via dailymail

Bali,  Sijoripost.com – Seorang turis asal Australia syok berat usai menjalani terapi kerokan atau kerikan di Bali.

Pasalnya, dia melihat punggungnya penuh garis-garis merah yang mengerikan, mirip cakaran naga, demikian komentarnya.

Seperti dilansir Daily Mail (5/10), Candise Raison dan suaminya beberapa waktu lalu memang sengaja berlibur ke Bali.

Pasangan asal Paringa, Australia Selatan ini enam hari berlibur ke Pulau Dewata.

Di tengah masa traveling di Bali, Candise bercerita, dirinya ingin bersantai sejenak dengan melakukan pijat relaksasi.

Karena malas untuk keluar kamar, Candise memutuskan untuk memanggil tukang pijat via aplikasi Gojek.

Saat giliran suaminya dipijat, si tukang pijat bertanya apakah dirinya ingin mengeluarkan “naga merah” dari tubuhnya.

Candise terdiam sejenak.

Dia kemudian berpikir, mungkin saja si tukang pijat ingin mencoba beberapa ritual khas daerah setempat.

Candise pun setuju.

“Saya tidak tahu maksud dari ucapan Anda. Namun suami saya siap mencoba apa saja,” jawab Candise kepada si tukang pijat.

Si tukang pijat lalu mengambil sebuah koin.

Laiknya kerokan yang sudah jamak dilakukan orang Indonesia, punggung suami Candise mulai dikerik pelan-pelan.

Si tukang pijat berkata kepada Candise bahwa besok suaminya akan berubah menjadi “naga merah.”

Proses kerokan berakhir.

Si tukang pijat pulang.

Keesokan harinya, apa yang disebut oleh si tukang pijat menjadi kenyataan.

Punggung suami Candise penuh dengan jalur merah, mirip naga yang sedang marah.

Mulai dari atas leher hingga ke tulang ekor.

Candise dan suaminya awalnya syok berat dan kaget luar biasa.

Namun setelah tenang mereka justru tersenyum dan tertawa geli melihat hasil kerokan tersebut.

Candise (tengah) bersama suami dan adiknya. (Facebook via Daily Mail) ()

“Kami berdua tertawa sampai keluar air mata,” ucap Candise.

Setelah kerokan tersebut, ujar Cadise, hal aneh terjadi.

Sebelumnya sang suami selalu mengeluhkan sakit punggung dan hal itu telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.

Anehnya, usai kerokan di bali, sang suami tak pernah mengeluh sakit punggung lagi.

“Dia tak pernah mengeluh sakit punggung lagi,” ucap Candise.

“Suami saya bercerita, saat dikerik rasanya seperti gatal menunggu untuk digaruk. Tapi setelah koin dikerikkan, rasanya fantastis.”

Candise juga berkisah bahwa jaringan kulit suaminya baik-baik saja, tidak seperti yang ditakutkan banyak orang yang takut kerokan.

Setelah lima hari, bekas jalur merah di punggung suaminya menghilang.

GUA SHA

Sering bikin heran turis mancanegara, praktik kerokan sebenarnya bukan monopoli bangsa Indonesia.

Di China, terapi semacam ini disebut gua sha.

Sebuah terapi yang memanfaatkan sisi koin atau sendok yang kemudian digosok secara pararel di punggung atau dada.

Sementara di Vietnam dan Kamboja, kerokan dikenal dengan sebutan cao gio.

Metode ini diyakini bisa melepaskan material buruk dari tubuh yang sedang tidak sehat atau sakit.

Biasanya dipakai untuk mengusir rasa lelah, kaku, dan cedera otot sehingga tercipta aliran darah baru.

Di Indonesia kerokan diyakini ampuh untuk mengusir masuk angin walau dalam ilmu kedokteran sendiri tidak mengenal yang namanya sakit masuk angin.

Tribun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares